Satu-satunya Jalan


“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
(Sabda Yesus Kristus dalam Yohanes 14:6)


Di tengah masyarakat yang majemuk sekarang ini, apakah anda termasuk orang yang bertanya-tanya : Mengapa aku harus memilih percaya pada Yesus Kristus, padahal ada begitu banyak aliran kepercayaan di dunia ini?

Di tengah masyarakat di mana kita sulit menaruh kepercayaan pada para pemimpin bangsa kita maupun pemimpin dunia, pada institusi maupun individu, apakah anda termasuk orang yang bertanya : Masih adakah yang dapat kuandalkan?

Di tengah kehidupan yang penuh kematian, kehancuran, penderitaan, apakah anda termasuk orang yang bertanya : Masih adakah suatu kehidupan indah yang boleh kuharapkan?
Jika itu yang anda alami, maka bersiaplah untuk mengetahui bahwa kalimat yang Yesus ucapkan di atas sungguh merupakan satu-satunya harapan bagi umat manusia, termasuk anda.



“Akulah jalan”

“Life will find a way” : kata Dr Malcom, seorang ahli matematika yang ikut ke kebun binatang Dinosaurus dalam film Jurassic Park pertama. Walaupun hanya dalam sebuah film tetapi kalimat itu ada benarnya. “Kehidupan akan terus menerus mencari jalan”, demikian makna yang lebih tepat. Artinya, kehidupan tidak akan pernah statis, melainkan selalu mengalami perubahan, selalu bergerak, selalu mencari jalan keluar.

Itu sebabnya, manusia tidak pernah puas dengan keberadaannya saat ini. Ia terus menerus merasa kurang, bahkan kosong. Sehingga ia terus menerus mencari segala sesuatu untuk memenuhi kekosongan di dalam dirinya. Perasaan kosong dan tidak pernah puas ini dialami oleh semua orang, meskipun tidak semua orang tahu apa penyebabnya.

Hanya melalui terang Firman Tuhan, kita dapat mengetahui bahwa penyebab utama dari perasaan itu adalah keterpisahan dari Allah. Sebab pada hakekatnya, manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah. Tetapi dosa telah memisahkan manusia dari Allah, sehingga kini manusia harus menanggung suatu kehidupan yang tidak lengkap. Ada yang hilang dalam diri manusia. Ada yang kosong, dan manusia melakukan berbagai upaya untuk mengisi kekosongan itu.

Segala bentuk upaya untuk mengisi kekosongan itu kemudian melahirkan konsep agama dalam diri manusia. Itu sebabnya, “agama” dalam pengertiannya yang paling mendasar adalah usaha manusia untuk menemukan yang ilahi. Manusia mencari jalan untuk kembali pada yang ilahi.

Ini adalah problem yang universal bagi manusia. Alam sadar maupun alam bawah sadar manusia mengatakan bahwa ada sesuatu di luar sana yang bersifat tidak terbatas. Dan bahwa diri kita yang terbatas ini suatu saat akan ditelan oleh yang tidak terbatas itu. Akan tetapi, dalam keterbatasannya, manusia tidak tahu persis apakah atau siapakah yang tidak terbatas itu?

Dua hal ini, yaitu usaha untuk menemukan yang ilahi dan ketidakmampuan untuk mengenal yang ilahi itu, melahirkan agama-agama yang ada di dunia. Baik agama-agama besar seperti Islam, Budha, Hindu, Katolik dll. Maupun agama-agama yang kita temukan dalam masyarakat primitif seperti Animisme dan Dinamisme

Bahkan masyarakat yang mengaku Atheis sekalipun, tidak dapat lari dari konsep ilahi tersebut. Buktinya? Fakta bahwa mereka berkata “Tidak ada Allah” justru menunjukkan bahwa di dalam benak mereka sebenarnya sudah terdapat suatu konsep ilahi. Sebab bagaimana mungkin mereka dapat menolak suatu konsep yang tidak pernah ada di dalam pikiran mereka?

Contoh : Apakah Superman ada? Ketika anda menjawab : tidak ada, maka sebenarnya di dalam otak anda sudah terdapat konsep tentang Superman, yaitu seorang pria berotot asal planet Krypton, berpakaian biru merah dengan huruf “S” di dada dan bisa terbang ke sana kemari seperti burung. Tetapi coba anda tanyakan hal yang sama kepada orang yang sama sekali tidak pernah melihat tokoh ini di komik maupun film, maka apa jawabnya? Pasti ia akan menjawab : “Superman itu apaan sih? Sejenis makanan atau apa?” Di sini jelas bahwa seseorang tidak mungkin menolak atau menerima konsep apapun yang tidak ada di dalam otak mereka. Baru setelah konsep itu dikenali oleh pikiran, entah konsep tentang Superman entah tentang Allah, manusia mampu memutuskan untuk menolak atau menerima konsep itu.

Dari konsep agama yang manusia miliki itu, lalu muncullah berbagai peraturan agama. Manusia menciptakan larangan dan perintah yang menurut mereka dapat menjadikan dirinya lebih baik, lebih suci dan terutama lebih berhak untuk sampai kepada Allah dan diterima oleh-Nya. Manusia berpikir bahwa jika mereka berbuat baik maka Allah pasti mau menerima mereka di hadirat-Nya.

Tetapi Yesus berkata “Akulah jalan”. Dalam bahasa Inggris, kata-kata Yesus ini berbunyi: “I am The Way”. Tambahan kata “the” di sana menunjukkan bahwa Yesus bukanlah satu jalan di antara banyak jalan lain yang manusia cari, melainkan Yesus adalah satu-satunya jalan yang ada di dunia. Ini berarti, jalan untuk sampai kepada Allah bukan melalui usaha manusia tetapi melalui Pribadi Yesus Kristus.

Yesus juga tidak mengatakan bahwa Ia sendiri sedang berada di sebuah jalan yang menuju kepada Bapa. Melainkan Ia mengatakan bahwa Ia adalah jalan itu. Jika Yesus mengatakan bahwa Ia sedang ada di sebuah jalan menuju Bapa, maka Ia tidak lebih dari kita semua yaitu makhluk-makhluk yang sedang mencari sang ilahi. Tetapi Yesus berkata bahwa Ia-lah jalan itu. Artinya Yesus-lah sarana yang memungkinkan seseorang untuk sampai kepada Bapa. Yesus-lah pengantara itu.

Apa yang Yesus katakan ini jelas menentang konsep agama-agama lain di dunia. Agama lain mengatakan bahwa untuk mencapai yang ilahi, seseorang harus berbuat baik entah itu menuruti aturan-aturan yang tertera dalam Al Quran, entah itu mengikuti 8 jalan Budha, entah mengikuti aturan dalam Taurat, aturan gereja atau apa saja. Tetapi Yesus tidak menunjuk pada cara atau aturan atau metode. Yang pertama-tama Yesus tunjuk adalah diri-Nya, Pribadi-Nya. Tidak ada cara atau metode lain kecuali diri-Nya Pribadi yang dapat membawa seseorang kepada Bapa.

Itu sebabnya kekristenan yang sejati menekankan pada hubungan pribadi dengan Yesus Kristus sebagai landasan utama untuk hidup. Orang Kristen sejati bukan dilahirkan dari peraturan, melainkan dari Oknum Allah. Peraturan berfungsi untuk mendidik agar kita yang sudah dibenarkan ini dapat hidup dengan benar. Tetapi peraturan itu sendiri tidak mungkin dapat melahirkan kehidupan.

Bahaya yang sedang dihadapi saat ini oleh gereja di antaranya adalah ketika kekristenan melulu hanya menekankan pada aturan gereja (bahkan aturan Alkitab sekalipun) tanpa adanya suatu hubungan pribadi pada Yesus Kristus .

Masalah inilah yang dikecam oleh Yesus Kristus dalam Matius 7:22-23. Orang-orang itu membanggakan segala perbuatannya. Sekalipun nampaknya saleh, tetapi mereka tidak punya hubungan pribadi dengan Yesus (“Aku tidak pernah mengenal kamu!”). Padahal hanya Pribadi itu yang dapat menyelamatkan, bukan perbuatan mereka.

Kekristenan semacam itu tidak ada bedanya dengan agama-agama lain di dunia. Yang membuat kekristenan unik, justru bukanlah segudang peraturannya, melainkan Pribadi Yesus Kristus. Sebab Dia-lah jalan itu.



“Akulah kebenaran”

Sekarang ini, orang banyak menyerukan semangat Pluralisme, yaitu suatu konsep yang mengatakan bahwa ada banyak jalan, ada banyak cara, ada banyak kebenaran (Plural = jamak = banyak = majemuk). Dalam bahasa sehari-hari, orang yang menganut Pluralisme adalah dia yang berkata : "Semua agama sama saja” (Jangan dikira orang semacam ini tidak ada di dalam gereja)

Ketika kita bertemu dengan kalimat semacam itu, maka sebenarnya kita diperhadapkan pada persoalan tentang kebenaran. Sebab ketika dikatakan bahwa “semua agama sama saja” maka itu berarti manusia ingin berkata bahwa “semua agama sama-sama mengandung kebenaran tentang Allah”. Tetapi apakah pemikiran semacam ini masuk akal? Sebab faktanya semua agama memiliki keunikannya sendiri-sendiri atau caranya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Budha tidak kenal konsep Allah yang berpribadi, bagi mereka allah adalah semacam suatu kekuatan di alam semesta. Penganut Islam mengakui Allah sebagai Oknum yang berpribadi tetapi hanya ada satu Pribadi. Sementara itu, kekristenan mengatakan bahwa Allah adalah satu esensi yang esa tapi terdiri dari tiga Pribadi yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Bagi penganut Islam Yesus bukan Allah. Tetapi bagi orang Kristen Yesus adalah Allah. Sekarang bagaimana mungkin kita dapat berkata bahwa “kesimpangsiuran” semacam ini sama benarnya?

Bukankah ketika perang Irak dan Amerika berlangsung kita menemukan bahwa Irak dan Amerika mengatakan hal-hal yang simpang siur? Irak mengatakan bahwa Amerika kalah di berbagai kota. Amerika mengatakan bahwa mereka berhasil menguasai kota-kota besar. Lalu mungkinkah kita mengatakan bahwa mereka dua-duanya pasti benar? Jelas tidak mungkin. Pasti ada satu yang benar dan ada satu yang salah. Atau bahkan mungkin saja kedua-duanya salah. Sesuatu yang jelas-jelas memiliki perbedaan yang hakiki, tidak mungkin dikatakan sama.
Yesus juga tidak pernah mengatakan bahwa ada banyak kebenaran. Dengan tegas dan jelas Dia berkata “Akulah kebenaran”. Dan sama seperti yang sebelumnya, Yesus tidak mengatakan bahwa Ia adalah satu kebenaran di antara kebenaran yang lain, melainkan satu-satunya kebenaran (bukan “a truth”, melainkan “the truth”). Kebenaran Yesus adalah mutlak, bukan pilihan

Jika Ia katakan bahwa Ia adalah satu-satunya kebenaran, maka Ia pasti menolak yang lain sebagai kebenaran. Sebab jika tidak, maka Yesus adalah pribadi yang patut dipertanyakan kredibilitas dan integritas-Nya, jangan-jangan Yesus penipu atau tidak waras atau plin-plan. Namun sepanjang hidup-Nya di bumi, tak seorangpun dapat membuktikan bahwa Yesus adalah pendosa ataupun orang yang tidak waras. Sehingga tidak mungkin ada kebohongan dalam kata-kata-Nya itu. Kata-kata tersebut diucapkan Yesus dengan penuh kesadaran. Kalau begitu sekarang hanya tinggal satu kemungkinan yang tersisa, yaitu bahwa Ia sungguh-sungguh adalah kebenaran. Konsekuensinya, yang lain bukan kebenaran.

Sejarah agama-agama juga membuktikan bahwa di seluruh dunia ini tidak ada orang, seberapapun agungnya dia, yang berani berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Mungkin ada yang berani berkata bahwa ajarannya adalah benar, tetapi tidak ada yang berani mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Konfusius (Kong Hu Cu), tokoh filsafat Cina yang besar, tidak berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Dia justru mengaku sedang mencari kebenaran itu. Sidharta Gautama tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Mohammad pun tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Mungkin beliau mengatakan bahwa ajarannya benar, tetapi beliau tidak pernah berkata bahwa dirinya adalah kebenaran. Maria ibu Yesus pun tidak berani berkata bahwa ia adalah kebenaran, melainkan dengan jujur ia mengakui bahwa Yesus adalah juruselamatnya, artinya ia sadar bahwa dirinya butuh diselamatkan oleh Yesus, sama seperti yang lain.
Tetapi Yesus berkata : “Akulah kebenaran”. Yesus menunjuk pada Pribadi-Nya sendiri. Jika Pribadi-Nya adalah kebenaran, maka sudah pasti ajarannya juga benar. Inilah keunikan Yesus yang tidak mungkin ditemukan dalam pribadi manapun di dunia. Dan karena Yesus adalah kebenaran, maka kita bisa mengandalkan Dia atas segala karya-Nya, atas segala perkataan-Nya dan janji-Nya. Di seluruh dunia, kita temukan begitu banyak kebohongan, tetapi di dalam Yesus hanya ada kebenaran. Itu pengakuan-Nya sendiri.



“Akulah hidup”

Semua orang di dunia ini menghadapi satu prospek yang sama. Entah dia kaya ataupun miskin. Entah dia berpendidikan ataupun tidak. Entah dia seorang prajurit yang gagah perkasa ataupun seorang bocah sakit-sakitan. Mereka semua, termasuk anda dan saya, suatu saat akan mati.

Apa artinya mati? Mati artinya tidak hidup. Oke, tetapi apa artinya tidak hidup? Tidak hidup berarti kita tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan selama kita hidup. Apa yang kita lakukan selama kita hidup? Banyak sekali, kita bisa tertawa, kita bisa berbicara, berkarya, berteman, bermain, berkumpul, membaca, memasak dan banyak lagi. Nah, jika kita mati, kesempatan itu tidak akan ada lagi. Benar demikian? Benar!

Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia sama saja dengan orang-orang lain yang mati. Tubuh-Nya terkulai dan menyangkut pada kayu salib. Yesus tidak bisa lagi bergerak-gerak. Dia tidak bisa lagi berbicara pada Petrus, atau makan bersama murid-murid-Nya. Dia tidak bisa lagi berjalan ke sana kemari menyusuri jalanan berdebu Palestina sambil memberi kesembuhan, pengajaran dan penghiburan. Yesus mati lalu menetap di kuburan.

Tetapi semuanya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena berbeda dengan orang lain yang sudah mati, Yesus bangkit lagi dari kematian. Dia hidup dalam arti yang sebenarnya. Dia bisa bercakap-cakap lagi dengan para murid. Dia makan ikan panggang di pinggir pantai bersama mereka. Dia bisa berjalan kaki bersama dua orang murid ke arah Emaus. Dia hidup lagi !

Ini tidak pernah terjadi pada manusia manapun yang pernah hidup di bumi. Semua orang yang mati, tetap mati. Lazarus memang pernah bangkit, tetapi kemudian dia mati lagi. Yesus bangkit dan tidak pernah mati lagi. Mengapa? Karena Dia adalah hidup itu sendiri. Artinya Yesus-lah Sang Pemberi Kehidupan. Dan kehidupan yang diberikan oleh Yesus bukanlah kehidupan sementara seperti yang kita kenal dan alami sekarang ini. Tetapi suatu kehidupan kekal, artinya kita dapat menikmati hidup untuk selama-lamanya tanpa penderitaan, tanpa air mata kesedihan.

Orang lain mungkin berkata bahwa mereka memiliki jalan. Orang lain mungkin berkata bahwa ajaran mereka mengandung kebenaran. Tetapi tidak satupun orang berani menjanjikan bahwa mereka akan memberi hidup bagi orang lain. Karena mereka semua sadar bahwa hidup mereka ini kelak tidak lagi menjadi milik mereka dan mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghindari kematian itu. Jika mereka sendiri tidak memiliki hidup, bagaimana mungkin mereka dapat memberi hidup pada orang lain? Tetapi Yesus mampu menjanjikan kehidupan bagi orang lain, dan Dia pasti mampu menepati janji-Nya.

Apa gunanya seseorang berkata bahwa dirinya tahu jalan yang benar, tetapi ia sendiri mati dan tidak dapat memastikan jalan yang benar itu? Tetapi Yesus hidup sampai sekarang, sehingga Dia pasti mampu untuk membuktikan bahwa Dia-lah jalan itu, Dia-lah kebenaran itu, Dia-lah hidup itu. “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” : tegas-Nya lagi.


Akhir kata

Anda sudah mengetahui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah. Maka marilah datang kepada Jalan itu. Segala usaha kita untuk mencari jalan kepada Allah pasti akan sia-sia. Allah sudah menyediakan jalan-Nya bagi kita, Yesuslah jalan itu.

Anda sudah melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya kebenaran. Sekalipun anda tidak mampu lagi mempercayai dunia ini. Sekalipun anda sudah muak dengan segala janji dan ulah para penguasa. Sekalipun anda sulit percaya pada siapapun. Tetapi marilah tengok, Yesus adalah kebenaran. Dia mati demi menjadikan kita benar di hadapan Allah.

Dan Yesus sudah berkata bahwa Dia adalah hidup. Di mana lagi manusia dapat memiliki harapan selain di dalam Dia? Biarkan Dia menjadi Tuhan dan Juruselamatmu. Hanya Dia yang mampu melakukan peran itu. Sebab hanya Dia yang telah bangkit dari kematian untuk dapat memberi kita kehidupan kekal.